Mengapa Nike Pilih Lisa Blackpink? Strategi Brand dengan Idol K-Pop 2026

Selama puluhan tahun, wajah Nike adalah para raksasa lapangan: Michael Jordan, Cristiano Ronaldo, hingga LeBron James. Namun, per Januari 2026, dunia pemasaran dikagetkan dengan pengumuman Lisa Blackpink sebagai mitra global jangka panjang Nike. Ternyata, langkah ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan sebuah manuver bisnis yang sangat diperhitungkan. Oleh karena itu, kita perlu membedah mengapa brand sekelas Nike kini lebih memprioritaskan “Aura K-Pop” dibandingkan medali emas atlet profesional.

1. Evolusi Sneaker: Dari Alat Olahraga Menjadi Aset Fashion

Jika kita menengok sejarah, industri sepatu kets awalnya dibangun di atas performa teknis. Anda membeli Nike karena ingin melompat setinggi Jordan. Namun, riset dari berbagai analis streetwear internasional (seperti kanal NachoAverageFinds atau Seth Fowler) menunjukkan bahwa sekarang konsumen tidak lagi peduli dengan teknologi cushioning atau carbon plate untuk penggunaan harian.

Ternyata, sepatu kini telah bertransformasi menjadi validasi fashion dan simbol status sosial. Lisa Blackpink tidak menjual “kemampuan lari”, tapi ia menjual “estetika”. Saat Lisa muncul di Paris mengenakan Nike Air Max 95, ia memberikan pesan bahwa Nike adalah bagian dari high-fashion global. Inilah yang dicari Nike: relevansi budaya di mata Gen Z dan Alpha yang lebih sering berada di depan layar media sosial daripada di lapangan basket.

2. Hubungan Parasosial: Kekuatan “Militansi” Fans K-Pop

Salah satu alasan ekonomi paling kuat adalah fenomena Parasocial Relationship (Hubungan Parasosial). Berbeda dengan penggemar atlet yang mungkin hanya loyal pada klub, penggemar Idol K-Pop (seperti LILIES atau BLINK) memiliki ikatan emosional yang jauh lebih dalam.

  • Support as Duty: Bagi fans K-Pop, kesuksesan idolanya adalah kesuksesan mereka juga. Saat Lisa dikontrak Nike, fans merasa memiliki kewajiban moral untuk memastikan kampanye tersebut sukses besar dengan membeli produknya.
  • Kolektibilitas Tinggi: Penggemar K-Pop dikenal sebagai kolektor yang militan. Sepatu yang dipakai Lisa bukan lagi sekadar sepatu, melainkan barang koleksi yang wajib dimiliki untuk merasa “dekat” dengan sang idola.
  • Jangkauan Tanpa Batas: Atlet biasanya memiliki basis fans yang terbagi secara geografis (misal: fans sepak bola di Eropa). Idol K-Pop melampaui itu; mereka memiliki jutaan pengikut aktif dari Asia Tenggara, Amerika, hingga Amerika Latin dalam satu waktu yang bersamaan.

3. “Aura Coolness”: Belajar dari Kasus New Balance dan IU

Jika Anda melihat kanal YouTube luar seperti Heskicks atau Common Hype, mereka sering membahas bagaimana sebuah brand yang dianggap “tua” bisa mendadak keren lagi. Contoh paling nyata adalah New Balance.

Dulu, New Balance sering dijuluki sebagai “Dad Shoes” (sepatu bapak-bapak). Namun, ketika mereka menggaet IU, citra tersebut berubah total menjadi retro-cool dan aesthetic. Nike melihat potensi serupa pada Lisa. Lisa memiliki edge yang lebih berani, sporty, dan high-fashion. Kehadiran Lisa adalah cara tercepat bagi Nike untuk melakukan rebranding terhadap lini pakaian wanita agar terlihat lebih “rebel” dan modern.

4. Dominasi Pasar Asia dan Digitalisasi Marketing

Asia bukan lagi pasar sekunder. Faktanya, Asia adalah penggerak utama ekonomi luxury dan sportswear dunia saat ini. Lisa, sebagai orang Thailand dengan basis fans terbesar di China, Korea, dan Asia Tenggara, adalah “kunci” untuk mengunci dominasi Nike di kawasan ini.

Merek global menyadari bahwa iklan televisi tradisional sudah mati di mata anak muda. Mereka butuh konten yang bersifat native—seperti foto Lisa saat latihan dance atau saat ia jalan-jalan di Paris. Konten seperti inilah yang memicu algoritma media sosial dan menciptakan gelombang penjualan instan yang tidak bisa dihasilkan oleh atlet lari tradisional sekalipun.

5. Apakah Atlet Akan Terpinggirkan?

Secara filosofis, bukan berarti peran atlet hilang. Atlet tetap menjadi “jiwa” dan akar keaslian Nike dalam hal performa. Namun, Idol K-Pop adalah “wajah” yang menghubungkan jiwa tersebut dengan realitas pasar masa kini. Nike kini membagi strateginya: Atlet untuk inovasi, Idol untuk budaya.


Ingin Tampil Keren Seperti Lisa Tanpa Siksaan Pegal?

Memakai sepatu yang dipakai idol memang bikin gaya lo naik 100%, tapi jangan sampai salah pilih model yang bikin kaki lo “nyut-nyutan” seharian. Pahami teknologi di balik kenyamanan sepatu sebelum Anda checkout:

👉 Baca Juga: Rahasia Sains di Balik Sepatu Terbaik Untuk Berdiri Lama: Jangan Salah Pilih!


Daftar Referensi & Riset Tambahan:

Leave a Reply